Aplikasi Eco Enzyme dan Beauveria bassiana untuk Pengendalian Hama Spodoptera exigua dan Pengaruhnya Terhadap Produktivitas Bawang Merah Varietas Ketamonca Bima

Application of Eco Enzyme and Beauveria bassiana for the Control of Spodoptera exigua Pests and Its Impact on the Productivity of Allium cepa Var. Ketamonca Bima

Authors

  • Rosalita Rosalita Universitas Mbojo Bima
  • M. Inas Riandi Universitas Mbojo Bima

DOI:

https://doi.org/10.30605/ayyqnk95

Keywords:

Allium ascalonicum, Beauveria bassiana, biopestisida, eco enzymee, bawang merah, Spodoptera exigua

Abstract

Bawang merah Allium ascalonicum merupakan komoditas hortikultura bernilai tinggi di Indonesia. Tingkat konsumsinya terus meningkat seiring pertumbuhan populasi, sehingga mendorong upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas di sentra produksi seperti Kabupaten Bima. Varietas Ketamonca adalah kultivar lokal unggulan, namun produktivitasnya berfluktuasi setiap tahun akibat berbagai faktor, terutama serangan hama ulat bawang Spodoptera exigua. Pengendalian hama secara intensif masih bergantung pada insektisida sintetis, yang dapat memicu resistensi, menurunkan kesuburan tanah, dan mengganggu keamanan pangan. Salah satu alternatifnya adalah penggunaan eco enzymee yang dikombinasikan dengan jamur entomopatogen Beauveria bassiana, yang dikenal luas memiliki spektrum patogenisitas serangga yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi eco enzymee dan B. bassiana terhadap S. exigua serta dampaknya terhadap hasil panen bawang merah Ketamonca. Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial digunakan dengan dua faktor: kombinasi perlakuan (K0=kontrol, K1=10 g/L B. bassiana + 4 mL/L eco enzymee, K2=12 g/L B. bassiana, K3= 15 g B. bassiana/L air) dan interval aplikasi (W1=5 hari, W2=8 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan K3 (15 g B. bassiana/L air) dengan interval aplikasi 5 hari menghasilkan tingkat kematian larva tertinggi (90,1%) dan hasil panen umbi terbesar (18,1 ton/ha), sementara perlakuan K1W1 juga menunjukkan efektivitas yang baik (tingkat kematian 84,2%; hasil 17,3 ton/ha). Secara keseluruhan, interval aplikasi 5 hari lebih efektif dibandingkan jadwal 8 hari. Temuan ini menyoroti potensi kombinasi eco enzymee dan B. bassiana sebagai strategi pengendalian hayati ramah lingkungan untuk menekan populasi.

Shallot (Allium ascalonicum) is a high-value horticultural crop in Indonesia. Consumption has steadily increased in line with population growth, prompting government efforts to improve productivity in production centers such as Bima Regency. The Ketamonca variety is a flagship local cultivar, yet its productivity fluctuates annually due to multiple factors, particularly infestation by the beet armyworm (Spodoptera exigua). Intensive pest management still relies on synthetic insecticides, which can trigger resistance, reduce soil fertility, and compromise food safety. An alternative is the use of eco enzyme combined with the entomopathogenic fungus Beauveria bassiana, widely recognized for its broad-spectrum insect pathogenicity.] This study aimed to evaluate the effectiveness of eco enzyme and B. bassiana combinations against S. exigua and their impact on Ketamonca shallot yield. A factorial randomized block design was used with two factors: treatment combinations (K0=control, K1=10 g/L B. bassiana + 4 mL/L eco enzyme, K2=12 g/L B. bassiana, K3=15 g/L B. bassiana/L) and application intervals (W1=5 days, W2=8 days). Results showed that K3 (15 gr B. bassiana/L) applied every 5 days produced the highest larval mortality (90.1%) and the greatest bulb yield (18.1 t/ha), while K1W1 also performed effectively (84.2% mortality; 17.3 t/ha). Overall, the 5-day interval was more effective than the 8-day schedule. These findings highlight the potential of eco enzyme combined with B. bassiana as an eco-friendly biological control strategy to suppress S. exigua while simultaneously enhancing local shallot productivity.

 

References

Abbas, G., Hassan, N., Farhan, M., Haq, I., & Karar, H. (2015). Effect of selected insecticides on Helicoverpa armigera Hubner (Lepidoptera: Noctuidae) on tomato (Lycopersicon esculentum Miller) and their successful management. Advances in Entomology, 3(1), 16-23. DOI: https://doi.org/10.4236/ae.2015.31003

Angkasa, M. A., Hakim, L., & Demula, K. S. (2024). Strategi pengembangan upland bawang merah di Kabupaten Sumbawa. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian, 4(1), 54–70. https://doi.org/10.29303/jsep.v4i1.824 DOI: https://doi.org/10.58406/jsep.v4i1.1472

Azwana, A., Mardiana, S., & Zannah, R. R. (2019). Efikasi insektisida nabati ekstrak bunga kembang bulan (Tithonia diversifolia A. Gray) terhadap hama ulat grayak (Spodoptera litura F.) pada tanaman sawi di laboratorium. BIOLINK: Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan, 5(2), 131–141. https://doi.org/10.31289/biolink.v5i2.2276 DOI: https://doi.org/10.31289/biolink.v5i2.1988

As’ad, M. F., Kaidi, F., & Syarief, M. (2018). Status resistensi walang sangit (Leptocorisa acuta F.) terhadap insektisida sintetik dan kepekaannya terhadap Beauveria bassiana pada tanaman padi. AGRIPRIMA Journal of Applied Agricultural Sciences, 2(1), 79–86. https://doi.org/10.25047/agriprima.v2i1.53 DOI: https://doi.org/10.25047/agriprima.v2i1.80

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat. (2018). Laporan Kinerja BPTP NTB Tahun 2018. BPTP Nusa Tenggara Barat.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB. (2023). Monitoring Kesedian Stok Bawang Merah dan Cabai. https://distanbun.ntbprov.go.id/?p=7901

Gulo, G. B., Harefa, R. A., Sihotang, J., & Tampubolon, J. (2023). Analisis fluktuasi harga dan elastisitas transmisi harga bawang merah di Sumatera Utara. Prosiding Seminar Nasional Pembangunan dan Pendidikan Vokasi Pertanian, 4(1), 17–26. DOI: https://doi.org/10.47687/snppvp.v4i1.627

Handayani, S. M., Lusiawati, O., Imaduddin, N., Rahmadini, F., Arsyad, M., Kurniawati, A., Aditama, M., Raihan, M., Jahro, D. Z., Abdurrahim, F., & Muharram, R. (2023). Pelatihan pembuatan eco enzyme sebagai upaya pengolahan sampah organik rumah tangga di Dukuh Polangan, Kalurahan Sumberharjo. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat & CSR Ke-3 Fakultas Pertanian UNS, 3(1), 1–8.

Hasanah, Y. (2020). Eco enzymee and its benefits for organic rice production and disinfectant. Journal of Saintech transfer, 3(2), 119-128. DOI: https://doi.org/10.32734/jst.v3i2.4519

Iqbal, M., Tadjudin, E., & Nur, S. (2022). Pengaruh berbagai dosis pupuk organik cair dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tiga varietas bawang merah (Allium ascalonicum L). Jurnal AGROSWAGATI, 10(2), 91–102. https://doi.org/10.33603/agroswagati.v10i2.7037 DOI: https://doi.org/10.33603/.v10i2.8584

Istikomah, R. (2023). Uji efektivitas ekoenzim kulit pisang ambon (Musa paradisiaca L.) dan kulit jeruk (Citrus sp) sebagai insektisida hama penggerek buah kopi (Hypothenemus hampei F.) [Skripsi]. UIN Raden Intan Lampung.

Komariah, I., & Anton, A. (2022). Pemberdayaan masyarakat petani dengan memanfaatkan bawang yang tidak terjual menjadi produksi usaha bawang goreng aneka rasa. JPM: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(1), 26–31. https://doi.org/10.52434/jpm.v1i1.1795 DOI: https://doi.org/10.52434/jpm.v1i1.1795

Khokhar, K. M. (2017). Environmental and genotypic effects on bulb development in onion—A review. Journal of Horticultural Science and Biotechnology, 92(5), 448-454. DOI: https://doi.org/10.1080/14620316.2017.1314199

Laksana, R. N., Himawan, T., & Choliq, F. A. (2022). Kombinasi jamur entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dengan ekstrak daun pepaya untuk pengendalian Plutella xylostella Linnaeus (Lepidoptera: Plutellidae). Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan, 10(2), 60–72. https://doi.org/10.21776/ub.jurnalhpt.2022.010.2.2 DOI: https://doi.org/10.21776/ub.jurnalhpt.2022.010.2.2

Pardian, P., Noor, T. I., & Kusumah, A. (2016). Analisis penawaran dan permintaan bawang merah di Provinsi Jawa Barat. AGRICORE-Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian, 1(2), 95-204. DOI: https://doi.org/10.24198/agricore.v1i2.22711

Sadya, S. (2023). Indonesia produksi bawang merah sebanyak 1,97 juta ton pada 2022. Data Indonesia.id. https://dataindonesia.id/industri-perdagangan/detail/indonesia-produksi-bawang-merah-sebanyak-197-juta-ton-pada-2022

Setiani, R., Mulyono, D., & Nurmalinda. (2019). Strategi pengembangan bawang merah di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, 26(2), 143–152. https://doi.org/10.14203/jep.26.2.2018.143-15 DOI: https://doi.org/10.14203/JEP.26.2.2018.143-152

Singh, B., Ezekiel, R., & Sukumaran, N. P. (2001). Dry matter accumulation and tuber yield in potato as affected by defoliation. Potato Journal, 28(2–4), 251–255.

Sutrisna, I. K., & Dewi, M. K. (2016). Pengaruh tingkat produksi, harga dan konsumsi terhadap impor bawang merah di Indonesia. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, 5(1), 445–492. https://ojs.unud.ac.id/index.php/eep/article/view/15809

Wowiling, S. S., Pelealu, J., & Maramis, R. T. (2015). Pemanfaatan cendawan Beauveria bassiana dalam mengendalikan hama Paraeucosmetus sp. pada tanaman padi sawah di Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal Bios Logos, 5(2), 1–8. DOI: https://doi.org/10.35799/jbl.5.2.2015.10549

Yasmeen, T., Haidar, W., Syrish, A., Rizwan, M., Arif, M. S., Shahzad, S. M., & Tariq, M. (2024). Endophytic fungi: Plant growth-promoting phytohormones and their potential application. In Fungal secondary metabolites. (pp. 57-72). Elsevier. DOI: https://doi.org/10.1016/B978-0-323-95241-5.00024-1

Downloads

Published

2026-10-15