Distribusi dan Artikulasi Pengetahuan dalam Film Inang (2022) dan Exhuma (2024)

DOI: https://doi.org/10.30605/x5zzjy60

Authors

akses, pembatasan, pengetahuan, ritual, artikulasi

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana akses dan pembatasan pengetahuan ritual membentuk pemosisian Wulan dalam Inang (2022) dan Hwa-rim dalam Exhuma (2024), serta bagaimana keduanya mengartikulasikan agensi dalam kondisi pengetahuan yang berbeda. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan analisis tekstual film secara komparatif terhadap dua film dan delapan rangkaian adegan terpilih dari 29 rangkaian adegan kandidat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan pengetahuan tidak selalu menghasilkan posisi subordinat yang kaku. Dalam Inang, pembatasan informasi dan keterlambatan akses berkaitan dengan pemosisian Wulan sebagai objek ritual serta mempersempit kemungkinan tindakannya sebelum tujuan ritual diketahui. Sebaliknya, dalam Exhuma, batas pengetahuan Hwa-rim terutama berupa batas keahlian dalam pembagian praktik ritual dan tetap memungkinkan dirinya menafsirkan gangguan, menentukan strategi, serta mengorganisasi keterlibatan pihak lain. Perbandingan ini menunjukkan bahwa pemosisian dan agensi tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya pengetahuan, melainkan oleh cara pengetahuan diperoleh, waktu akses, fungsi pengetahuan, dan kewenangan untuk menggunakannya dalam relasi kuasa tertentu.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Affifah, S. T., & Yudha, R. P. (2024). Mitos budaya dalam ritual Rebo Wekasan: Analisis semiotika Roland Barthes dalam film Inang. KALBISOCIO Jurnal Bisnis dan Komunikasi, 11(1), 67–80. doi:10.53008/kalbisocio.v11i1.3283 Sinta

Barth, F. (1975). Ritual and knowledge among the Baktaman of New Guinea. Yale University Press. Open Library

Bell, C. (1992). Ritual theory, ritual practice. Oxford University Press. Google Books

Brady, M. J. (2023). “I think the men are behind it”: Reproductive labour and the horror of second wave feminism. Feminist Media Studies, 23(2), 606–620. doi:10.1080/14680777.2021.1986093 Taylor & Francis Online

Creed, B. (1993). The monstrous-feminine: Film, feminism, psychoanalysis. Routledge. Google Books

Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected interviews and other writings, 1972–1977 (C. Gordon, Ed.). Pantheon Books. Google Books

Harrington, E. (2017). Women, monstrosity and horror film: Gynaehorror. Routledge. doi:10.4324/9781315546568 Google Books

Himam, M. M., & Dina, D. (2025). Beyond the kitchen: The socio-religious authority of women in Javanese slametan. Islamic Review: Jurnal Riset dan Kajian Keislaman, 14(1), 27–48. doi:10.35878/islamicreview.v14i1.1578 IPMAFA Journals

Kendall, L. (1985). Shamans, housewives, and other restless spirits: Women in Korean ritual life. University of Hawai‘i Press. doi:10.1515/9780824844837 De Gruyter Brill

Lindstrom, L. (1990). Knowledge and power in a South Pacific society. Smithsonian Institution Press. Google Books

Mahmood, S. (2005). Politics of piety: The Islamic revival and the feminist subject. Princeton University Press. JSTOR

Marcella, S., & Azeharie, S. (2024). Analisis semiotika Roland Barthes pada budaya Jawa dalam film Inang. Kiwari, 3(3), 545–552. doi:10.24912/ki.v3i3.32028 ResearchGate

Mukminin, M. S. (2024). Representation of violence and resistance of female characters in the Perempuan Tanah Jahanam. Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 5(2), 81–98. doi:10.23917/sosial.v5i2.4641 UMS Journals

Mulvey, L. (1975). Visual pleasure and narrative cinema. Screen, 16(3), 6–18. doi:10.1093/screen/16.3.6 DOI

Pitaloka, D. D. A., Setiyono, B., & Setiawan, A. (2026). The Exhuma: Spiritual semiosis and ritual logic in the final sequence. International Journal of Culture and Art Studies, 10(1), 40–55. doi:10.32734/ijcas.v10i1.24219 TALENTA Publisher

Saputra, D. D., & Dwiningtyas Sulistyani, H. (2019). Representasi motherhood pada karakter hantu perempuan dalam film Pengabdi Setan. Interaksi Online, 7(4), 39–53. UNDIP Publisher

Sarfati, L. (2016). Shifting agencies through new media: New social statuses for female South Korean shamans. Journal of Korean Studies, 21(1), 179–211. doi:10.1353/jks.2016.0009 Tel Aviv University

Sulistiawati, D., Mujani, S., & Mashuri, M. (2024). Characterization and cultural insight in ‘Exhuma 2024’ movie by Jang Jae-hyun. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(2), 28510–28517. Jurnal Pendidikan Tambusai

Tirta, E., & Paramita, S. (2025). Komunikasi spiritual dalam ritual pemakaman Korea pada film Exhuma (2024). Kiwari, 4(4), 751–760. doi:10.24912/ki.v4i4.36810 ResearchGate

van Heeren, K. (2007). Return of the Kyai: Representations of horror, commerce, and censorship in post-Suharto Indonesian film and television. Inter-Asia Cultural Studies, 8(2), 211–226. doi:10.1080/13583880701238688 Taylor & Francis Online

Varlina, V., Mandonsa, A. R., & Al-faraby, D. R. (2024). Membedah patriarki dibalik simbol film Inang (The Womb). Jurnal Nawala Visual, 6(1), 93–103. doi:10.35886/nawalavisual.v6i1.599 Scribd

Williams, L. (1991). Film bodies: Gender, genre, and excess. Film Quarterly, 44(4), 2–13. doi:10.2307/1212758

Published

2026-10-23

Issue

Section

Articles

Categories

How to Cite

Distribusi dan Artikulasi Pengetahuan dalam Film Inang (2022) dan Exhuma (2024). (2026). Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 12(4), 2756-2770. https://doi.org/10.30605/x5zzjy60