“Tasya Farasya Approved”: Influencer Culture sebagai Persepsi Kualitas dan Daya Tarik Produk Kecantikan di TikTok

DOI: https://doi.org/10.30605/rzhx9h33

Authors

influencer culture, hegemoni, TikTok, trust-based-marketing, cultural studies

Abstract

Penelitian ini menganalisis fenomena frasa “Tasya Farasya Approved” sebagai representasi praktik influencer culture yang membentuk persepsi kualitas dan daya tarik produk kecantikan di platform TikTok. Di era kapitalisme digital, influencer tidak lagi berfungsi semata sebagai promotor produk, melainkan sebagai aktor simbolik yang memproduksi standar selera, legitimasi kualitas, dan validasi sosial melalui mekanisme persetujuan yang bersifat persuasif. Dengan menggunakan kerangka teori hegemoni oleh Antonio Gramsci, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana bahasa, citra pribadi, dan praktik trust-based marketing bekerja sebagai mekanisme pembentukan konsensus dalam budaya konsumsi digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tekstual terhadap konten TikTok Tasya Farasya, termasuk narasi visual, penggunaan frasa “approved”, serta interaksi audiens dalam kolom komentar. Data dianalisis untuk melihat bagaimana otoritas simbolik influencer diproduksi, direproduksi, dan dinormalisasi sebagai common sense dalam komunitas digital. Hasil penelitian menunjukkan: (1) frasa “Tasya Farasya Approved” telah mengalami transformasi dari ekspresi personal menjadi simbol legitimasi kualitas yang diadopsi secara luas oleh audiens maupun suatu merek; (2) Citra personal influencer beroperasi sebagai komoditas dalam logika kapitalisme digital, di mana reputasi, kredibilitas, dan autentisitas menjadi modal utama dalam produksi nilai ekonomi; (3) Influencer culture merupakan arena hegemoni kultural yang bekerja melalui bahasa, simbol, dan relasi emosional. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian Cultural Studies dengan menempatkan influencer bukan sekadar aktor promosi digital, melainkan agen kultural yang memproduksi legitimasi makna terhadap kualitas produk melalui praktik bahasa dan performativitas digital. Melalui analisis terhadap frasa “Tasya Farasya Approved”, penelitian ini menunjukkan bagaimana otoritas simbolik di media sosial dikonstruksi sehingga membentuk kesadaran konsumtif audiens dalam dinamika budaya kontemporer.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abidin, C. (2020). Mapping Internet Celebrity on TikTok: Exploring Attention Economies and Visibility Labours. Cultural Science Journal, 12(1), 77–103. https://doi.org/10.5334/csci.140

Abidin, C. (2023). The Matrix of Authenticity in Influencer Cultures. Cultural Science, 15(1), 14–29. https://doi.org/10.2478/csj-2023-0002

Agung Putra Mulyana & Muhammad Irfan Djamzuri. (2025). Hashtag #kaburajadulu. INNOVATIVE: Journal of Social Science Research.

Baxter, P., & Jack, S. (2008). Qualitative Case Study Methodology: Study Design and Implementation for Novice Researchers. In The Qualitative Report (Vol. 13). http://www.nova.edu/ssss/QR/QR13-4/baxter.pdf

Beta, A. R. (2014). Hijabers: How young urban muslim women redefine themselves in Indonesia. International Communication Gazette, 76(4–5), 377–389. https://doi.org/10.1177/1748048514524103

Dwifatma, A., & Beta, A. R. (2024). The “Funny Line Veil” and the mediated political subjectivity of Muslim women in Indonesia. Asian Journal of Communication, 34(3), 284–297. https://doi.org/10.1080/01292986.2024.2320900

Jones, S. (2007). Antonio Gramsci. www.routledge.com/literature.

Mbake Woka, A. B., Doja, A. N., Dwi Julio, L. R., Abi, M., & Doni, R. (2025). Scroll, Like, Repeat: Analisis Kritis Komunikasi Orang Muda dalam Budaya Digital Kontemporer. Seri Filsafat Teologi, 35(34), 01–26. https://doi.org/10.35312/serifilsafat.v35i34.264

Najmi Hisaniyah, A. P. T. A. D. P. D. C. H. (2026). Konsep Budaya Dan Dinamika Kebudayaan Dalam Perspekti Filmu Sosial.

Nur Amira Abdul Wahab, I., Alia Elyna Abdul Ghafar, N., Afiq Irfan Mohd Azizi, M., Azani Fadli Abdul Haqq, M., Hafifi Jamri, M., & Ummah Mustofa, M. (2024). Pengaruh Influencer Media Sosial Tiktok Terhadap Proses Pembelajaran Netizen Di Malaysia (Vol. 8, Number 2).

Paul H. Fry. (2012). Theory of Literature.

Purwati, A., & Widaningsih, T. (2025). Kapitalisme Budaya dan Industri Media: Komodifikasi Konten dan Nilai Sosial di Era Digital. In Journal Scientific of Mandalika (jsm) e-ISSN (Vol. 6, Number 6).

Shakila, T., Rizqi, M., Benedicta, F., & Citra Paramita, A. (2025). Analisis Wacana Kritis Trend Fashion Pada #Skena di Media Sosial TikTok. 03(02), 589–593. https://conference.untag-sby.ac.id/index.php/semakom

Wira Krida, G., & Seran, A. (2025). Budaya Konsumtif di Media Sosial Tiktok: Pendekatan Kritis terhadap Pengaruh Kapitalisme pada Generasi Muda di Indonesia. Jurnal Global Ilmiah, 2(5). https://jgi.internationaljournallabs.com/index.php/ji

Zsigmondová, A., Zsigmond, T., & Machová, R. (2021). Theoretical Background to the Role of Trust in Marketing. SHS Web of Conferences, 115, 03019. https://doi.org/10.1051/shsconf/202111503019

Published

2026-09-15

Issue

Section

Articles

Categories

How to Cite

“Tasya Farasya Approved”: Influencer Culture sebagai Persepsi Kualitas dan Daya Tarik Produk Kecantikan di TikTok. (2026). Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 12(4), 2544-2563. https://doi.org/10.30605/rzhx9h33