Mathematical Structures In The Traditional Wind Instrument Suling Pompang Of Mamasa

Authors

DOI:

https://doi.org/10.30605/proximal.v9i2.8961

Keywords:

Etnomatematika, Suling Pompang, Geometri, Model Akustik, Frekuensi Resonansi, Pengetahuan Lokal

Abstract

Penelitian ini mengkaji etnomatematika pada Suling Pompang dari Kabupaten Mamasa dengan mengintegrasikan analisis geometri dan pemodelan akustik matematis. Selain berfungsi sebagai alat musik tradisional, Suling Pompang merepresentasikan kearifan lokal yang mengandung prinsip-prinsip matematika secara implisit. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi konsep geometri yang terdapat pada Suling Pompang; (2) menentukan parameter model akustik Joly ( , , , dan ) berdasarkan dimensi fisik suling; (3) menghitung spektrum frekuensi resonansi pada setiap konfigurasi lubang; dan (4) menganalisis deviasi harmonisitas nada atas yang dihasilkan. Penelitian menggunakan pendekatan etnomatematika eksploratif yang dipadukan dengan analisis kuantitatif menggunakan model akustik Joly. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan pengukuran langsung dimensi fisik instrumen menggunakan penggaris dan jangka sorong. Analisis data dilakukan melalui identifikasi bentuk geometri dan perhitungan spektrum frekuensi resonansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Suling Pompang merepresentasikan bangun ruang tabung dengan volume sebesar 77,715 cm³ dan luas permukaan 210,77 cm², sedangkan lubang-lubangnya berbentuk lingkaran. Parameter model Joly yang diperoleh adalah cm, , , dan . Spektrum frekuensi resonansi menghasilkan rentang nada dasar 310–437 Hz dengan deviasi harmonisitas yang signifikan pada lubang yang berada dekat lubang tiup, mencapai −49,8 sen. Temuan ini menunjukkan bahwa para pengrajin tradisional telah menerapkan prinsip-prinsip geometri dan akustik secara empiris dalam proses konstruksi instrumen. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian Etnomatematika melalui dokumentasi pengetahuan matematika lokal serta menegaskan potensi Suling Pompang sebagai sumber pembelajaran matematika kontekstual berbasis budaya.

References

Ely Goro Leba. (2024Makna Motif Sarung Sabu dan Sejarah Ada Hubi Ae dan Hubi Iki di Kalangan Wanita Suku Sbu Raijua. https://www.kompasiana.com/pegiatliterasi9661/65f7cc111470936e6719b212/makna-motif-sarung-sabu-dan-sejarah-ada-hubi-ae-dan-hubi-iki-di-kalangan-wanita-suku-sbu-raijua

Armstrong, M. A. (1988). Groups and symmetry. Springer-Verlag.

D’Ambrosio, U. (1985). Ethnomathematics and its place in the history and pedagogy of mathematics. For the Learning of Mathematics, 5(1), 44–48.

Gallian, J. A. (2016). Contemporary abstract algebra (9th ed.). Cengage Learning.

Gerdes, P. (1999). Geometry from Africa: Mathematical and educational explorations. Mathematical Association of America.

Gittinger, M. (1990). Splendid symbols: Textiles and tradition in Indonesia. The Textile Museum.

Kreyszig, E. (2011). Advanced engineering mathematics (10th ed.). Wiley.

Maxwell, R. (1990). Textiles of Southeast Asia: Tradition, trade and transformation. Periplus Editions.

Museum Negeri Propinsi NTT. (1995). Koleksi tenun ikat Museum Negeri Propinsi Nusa Tenggara Timur. Repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Stewart, J. (2015). Calculus: Early transcendentals (8th ed.). Cengage Learning.

Talo, D. D. (2004). Pergeseran kebudayaan orang Sawu pada fungsi kain tenun ikat di Desa Limaggu-Kupang NTT (Master’s thesis). Universitas Indonesia

Washburn, D. K., & Crowe, D. W. (1988). Symmetries of culture: Theory and practice of plane pattern analysis. University of Washington Press.

Weyl, H. (1952). Symmetry. Princeton University Press.

Zill, D. G. (2018). Advanced engineering mathematics (7th ed.). Jones & Bartlett Learning.

Downloads

Published

2026-06-03

How to Cite

Mathematical Structures In The Traditional Wind Instrument Suling Pompang Of Mamasa. (2026). Proximal: Jurnal Penelitian Matematika Dan Pendidikan Matematika, 9(2), 508-519. https://doi.org/10.30605/proximal.v9i2.8961