Menjajaki Relevansi Folklor dengan Toponimi Lima Desa Kawasan Situs Adipati Panjer sebagai Pemertahanan Konstruksi Sejarah Lisan : Kajian Linguistik Antropologis

DOI: https://doi.org/10.30605/qcy6ey10

Authors

  • Eliesa Ratih Anggraeni Universitas Gadjah Mada
  • Daru Winarti Universitas Gadjah Mada image/svg+xml

toponimi, folklor, linguistik antropologis, semiotika, Adipati Panjer

Abstract

Penelitian ini membahas toponimi di kawasan Situs Adipati Panjer, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, yang berkaitan dengan folklor tentang peperangan antara Adipati Panjer dan Gendam Semaradana. Kajian ini bertujuan mengungkap makna dan fungsi penamaan lima desa di kawasan tersebut yaitu Gondang, Kenep, Kayunan, Jarak, dan Kalasan berdasarkan perspektif linguistik antropologis dan semiotika Ferdinand de Saussure, serta klasifikasi makna toponimi menurut Sudaryat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik triangulasi data yang melibatkan wawancara mendalam dengan juru kunci dan kepala desa, observasi lapangan, serta studi literatur terhadap naskah Babad Khadiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penamaan lima desa di sekitar Situs Adipati Panjer merefleksikan nilai-nilai historis, geografis, dan budaya masyarakat setempat yang berakar pada folklor. Temuan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa konsep arbitraritas bahasa yang dikemukakan Ferdinand de Saussure berlaku pada penamaan desa yang berasal dari latar belakang folklor, seperti desa Gondang mempunyai makna referensial kebo ghondangen, desa Kenep mempunyai makna nginep, desa Kayunan mempunyai makna ayun, desa Jarak mempunyai makna pohon jarak, desa Kalasan mempunyai makna alas. Berdasarkan klasifikasi makna toponimi Sudaryat dikelompokkan menjadi tiga yaitu, Desa Gondang dan Kayunan menunjukkan aspek kebudayaan, Kenep menunjukkan aspek kemasyarakatan, sedangkan Jarak dan Kalasan merepresentasikan aspek perwujudan atau alam. Dengan demikian, toponimi di kawasan Situs Adipati Panjer tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai sistem tanda budaya yang menyimpan sejarah lisan di Kabupaten Kediri dan pemertahanan identitas daerah.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alaslan, A. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. Rajawali Press.

Camalia, M. (2015). Toponimi Kabupaten Lamongan (Kajian Antropologi Linguistik). Parole: Journal of Linguistics and Education, 5(1), 74–83. https://doi.org/https://doi.org/10.14710/parole.v5i1.74-83

Fasya, M., Kurniawan, E., Nurhadi, J., Sudana, U., Sari, D. G., & Rahmawati. (2023). Revealing Local Knowledge of Sundanese People of Toponyms in the Western Bandung-North Area. Jurnal Arbitrer, 10(4), 323–337.

Foley, W. (1997). Anthropological Linguistics: An Introduction. Blackwell Publisher Ltd.

Khoiriyah, F., Fahri, A., Bramantio, B., & Sumargono. (2019). Sejarah Toponimi Daerah Transmigrasi Provinsi Lampung Melalui Tuturan Tradisi Lisan. Jurnal Sejarah Dan Pembelajarannya Agastya, 9(2), 221–240.

Manalu, S. H., & Ramlan. (2022). Toponimi Desa-Desa di Kecamatan Sirandorung Kabupaten Tapanuli Tengah: Kajian Antropolinguistik. Kompetensi, 15(1), 82–92.

Mardatillah, R. (2025). Kearifan Lokal dalam Toponimi Nama Jalan Berbahasa Makassar di Kota Makassar. AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, Dan Pembelajarannya, 4(5), 22–31.

Muhyidin, A. (2017). Kearifan Lokal dalam Toponimi di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten: Sebuah Penelitian Antropolinguistik. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 17(2), 232–240.

Nurfajriani, W. V., Ilhami, M. W., Mahendra, A., Afgani, M. W., & Sirodj, R. A. (2024). Triangulasi Data dalam Analisis Data Kualitatif. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(17), 826–833.

Oktaviana, E., & Indrawati, D. (2020). Toponimi Penamaan Desa di Kecamatan Kebomas Gresik Jawa Timur (Kajian Linguistik Antropologi). Jurnal Sapala, 7(1).

Septiani, M. I., & Fateah, N. (2025). Nilai Kearifan Lokal dalam Toponimi Tempat Wisata di Kabupaten Wonogiri. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 18(2), 441–454.

Situmeang, I. V. O. (2020). Makna Cinta dalam Lirik Lagu Aut Boi Nian Soundtrack Film Toba Dreams (Analisis Semiotika Ferdinand de Saussure). Commed Jurnal Komunikasi Dan Media, 4(2), 123–148.

Sudaryat, Y., Gunardi, & Hediansah, D. (2009). Toponimi Jawa Barat (Berdasarkan Cerita Rakyat). Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. https://doi.org/10.12962/J24433527.V10I1.2300

Sugianto, A. (2017). Pola Nama Desa Di Kabupaten Ponorogo Pada Era Adipati Raden Batoro Katong: Sebuah Tinjauan Etnolinguistik. Jurnal Sosial Humaniora, 10(1), 34. https://doi.org/10.12962/j24433527.v10i1.2300

Sugiyanto, B., El Syam, R. S., & Fuadi, S. I. (2023). Esensi Makna di Sebalik Cawet: Studi Toponimi Penamaan Dusun di Desa Surengede Wonosobo. Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Ilmu Pendidikan, 2(2), 89–101.

Wulandari, I. K., & Sulistyowati, S. (2023). Ekspresi Bahasa dalam Toponimi: Studi Kasus di Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7(2), 211–220.

Wulandari, L. S., & Rosalina, E. (2021). Menjajaki Relevansi Folklor Desa Domas dengan Toponimi Lima Kampung: Suatu Kajian Historis dan Struktur Tanda. ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya, 4(2), 1–10.

Zahid, R., & Sulaeman. (2022). The Geneology of Islam Boarding: A Moderate Islam in Kediri. 6th Batusangkar International Conference (BIC 2021), 402.

Published

2026-03-13

Issue

Section

Articles

Categories

How to Cite

Menjajaki Relevansi Folklor dengan Toponimi Lima Desa Kawasan Situs Adipati Panjer sebagai Pemertahanan Konstruksi Sejarah Lisan : Kajian Linguistik Antropologis. (2026). Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 12(2), 841-853. https://doi.org/10.30605/qcy6ey10