Pola Penamaan Nama Desa Berunsur Air di Kabupaten Demak

https://doi.org/10.30605/onoma.v12i1.8068

Authors

  • Ilma Zulfa Universitas Gadjah Mada
  • Hendrokumoro Hendrokumoro Universitas Gadjah Mada

Keywords:

pola penamaan, toponimi, ekologi, Demak

Abstract

Bahasa merupakan refleksi dari kenyataan sosial yang merepresentasikan hubungan manusia dengan lingkungan alam dan sosial-budayanya. Penamaan unsur geografis, termasuk nama desa, tidak terlepas dari pengalaman ekologis dan historis masyarakat penuturnya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pola penamaan nama desa yang berunsur air di Kabupaten Demak. Data penelitian diperoleh dari laman Badan Pusat Statistik Kabupaten Demak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Demak, Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, pemerintah desa di Kabupaten Demak, serta wawancara dengan narasumber yang memahami sejarah dan kondisi wilayah setempat. Data dianalisis menggunakan teori linguistik ekologis Haugen (1972) untuk melihat keterkaitan bahasa dengan lingkungan, serta teori variasi bahasa Holmes (1992) untuk mengidentifikasi variasi bentuk dan penggunaan bahasa dalam penamaan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan desa berunsur air di Kabupaten Demak mencerminkan kondisi ekologis wilayah pesisir dan perairan, serta pengalaman sosial masyarakatnya. Secara struktural, penamaan tersebut didominasi oleh pola pemajemukan nomina + adjektiva (N + Adj) sebagai bentuk yang paling umum digunakan. Selain itu, ditemukan variasi leksikal sebagai penanda unsur air, seperti banyu, kali, tlogo, tambak, kedung, dan karang, yang masing-masing merepresentasikan karakteristik geografis, fungsi lingkungan, dan nilai budaya lokal.   Penelitian ini berkontribusi pada kajian linguistik ekologis dan toponimi dengan mengungkap pola pemajemukan dan variasi leksikal penanda unsur air dalam nama desa di Kabupaten Demak, yang merefleksikan relasi antara struktur kebahasaan, kondisi ekologis pesisir, dan pengalaman sosial masyarakat setempat.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anugraha, A. S., Karmilaha, M., & Rahmana, dan B. (2022). Potret Krisis Sosio-Ekologi Kawasan Pesisir Dampak Reklamasi. Journal of Urban and Regional Planning, 3 (1), 9–21. https://doi.org/10.26418/uniplan.v3i1.52818

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2024). Kamus besar bahasa Indonesia daring (edisi kelima). https://kbbi.kemdikbud.go.id/

Dana Dwi Nugraha, Ikwan Setiawan, E. S. (2022). Village Names Meaning In Pesanggaran District, Banyuwangi Regency: An Antropolinguistic Study. International Journal of Health, Education and Social (IJHES), 3(2), 1–9. https://ijhes.com/index.php/edu/article/view/261%0Ahttps://ijhes.com/index.php/edu/article/download/261/218

Daniswari, D. (2022). Asal Usul dan Sejarah Nama Demak. https://regional.kompas.com/read/2022/06/28/202953778/asal-usul-dan-sejarah-nama-demak

Duranti, A. (1997). Linguistic Anthropology. Cambidge University Press.

Eli Rustinar, & Reni Kusmiarti. (2021). Struktur Bahasa pada Toponimi Jalan di Kota Bengkulu. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 7(1), 167–181. https://doi.org/10.30605/onoma.v7i1.615

Fill, A., & Mühlhäusler, P. (2001). the Ecolinguistics Reader: Language, Ecology and Environment. In The Ecolinguistics Reader: Language, Ecology and Environment. https://doi.org/10.1080/14664200308668051

Foley, W. A. (1997). Anthropological Linguistics. In The Encyclopedia of Applied Linguistics (Issue June 2020). https://doi.org/10.1002/9781405198431.wbeal0031.pub2

Gusmiarnum, G. A., & Suyanto, S. (2024). Toponimi Desa-Desa di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati (Kajian Antropolinguistik). Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa Dan Sastra, 19(1), 31–45. https://doi.org/10.14710/nusa.1.1.31-45

Halfian, W. O., Hariyati, H., & Masri, F. A. (2022). Toponimi Penamaan Jalan Di Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Metalingua, 7(1), 35–50. https://doi.org/10.21107/metalingua.v7i1.15146

Haugen, E. I. (1972). The ecology of language. Stanford University Press.

Hendro, E. P. (1995). Kajian Sosio-Ekologis Mengenai Pusat Kerajaan Demak. Berkala Arkeologi, 15(3), 47–59. https://doi.org/10.30883/jba.v15i3.670

Holmes, J. (1992). An Introduction to Sociolinguistics. Routledge.

Jannah, W. dkk. (2021). Toponimi kecamatan di kabupaten jember. Widyaparwa, 49(1), 81–91.

Jayanti, A. (2020). Toponimi Kampung Njeron Beteng dan Njaban Beteng Keraton Yogyakarta. Deskripsi Bahasa, 3(1), 37–46.

Koentjaraningrat. (2003). Pengantar Antropologi Jilid 1 (cetakan ke). Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (1996). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama.

Munasikhah, S., & Wijayati, P. A. (2022). Dari Hutan Mangrove Menjadi Tambak : Krisis Ekologis Di Kawasan Sayung Kabupaten Demak 1990-1999. Journal of Indonesian History, 10(2), 129–140. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jih

Poerwadarminta, W. (1939). Kamus Bausastra Poerwadarminta. https://www.sastra.org/bahasa-dan-budaya/kamus-dan-leksikon/781-bausastra-jawa-poerwadarminta-1939-75-bagian-01-a

Ramlan, M. (1987). Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. CV Karyono.

Reza, E., Widodo, S., Baderan, D. W. K., & Lihawa, F. (2024). Analisis Sosio-Ekologi Aktivitas Pertanian di Desa Bonthula Kabupaten Gorontalo. Jurnal Wilayah, Kota Dan Lingkungan Berkelanjutan.

Rifandi, R. A., Ichsan, R., & Putra, S. (2023). Kesadaran Masyarakat Pesisir Terhadap Degradasi Lahan : Studi Kasus di Pesisir Kota Semarang. Journal of Enviromental Science Sustainable, 26–33.

Saputra, O. D., & Zakiah, D. M. (2025). Antara Ekologi, Religi, dan Tradisi: Menyigi Makna Kultural Nama Sumber Mata Air di Kabupaten Banyuwangi (Kajian Antropolinguistik). Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 18(1), 237–262.

Septiani, Y., Itaristanti, I., & Mulyaningsih, I. (2020). Toponimi Desa-Desa di Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7(1), 58. https://doi.org/10.33603/deiksis.v7i1.2219

Shofwata, L. dan A. M. (2021). Toponimi Masjid di Kotamadya Yogyakarta: Kajian Variasi Kebahasaan. Universitas Gadjah Mada.

Sudaryanto. (1988). Metode Linguistik. Gadjah Mada University Press.

Sukatman, & Fitriyah, S. M. (2024). Garuda myth-based toponym as a portrait of Indonesian cultural activities in the Solon years. Cogent Arts and Humanities, 11(1). https://doi.org/10.1080/23311983.2023.2299533

Zulfa, I. (2025a). Nama-Nama Tempat Makan Di Kabupaten Demak: Bentuk dan Refleksi Sosiokultural. Jurnal Etnolingual, 9(1), 157–172. https://doi.org/10.20473/etno.v9i2.67076

Zulfa, I. (2025b). Nama – nama warung gudeg di kota yogyakarta. Widyaparwa, 53(2), 156–164.

Published

2026-02-23

How to Cite

Ilma Zulfa, & Hendrokumoro, H. (2026). Pola Penamaan Nama Desa Berunsur Air di Kabupaten Demak. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 12(1), 744–755. https://doi.org/10.30605/onoma.v12i1.8068