Nilai Maskulinitas dalam Simbolisme Gerak Jepin Cangkah Pedang: Ekspresi Identitas Lelaki Melayu Pontianak
https://doi.org/10.30605/onoma.v12i1.7697
Keywords:
Maskulinitas, Tari Melayu, Simbolisme Gerak, Identitas Budaya, Jepin Cangkah PedangAbstract
Penelitian ini membahas nilai-nilai maskulinitas dalam Jepin Cangkah Pedang sebagai representasi identitas lelaki Melayu Pontianak. Kajian ini berangkat dari fenomena pergeseran makna maskulinitas akibat modernisasi dan globalisasi budaya yang menimbulkan stereotip terhadap peran laki-laki dalam seni tari. Penelitian bertujuan untuk menganalisis simbolisme gerak dalam Jepin Cangkah Pedang serta memahami bagaimana nilai-nilai maskulinitas diwujudkan dan dipertahankan dalam konteks sosial budaya masyarakat Melayu. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi terhadap pencipta, penggiat seni, serta akademisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jepin Cangkah Pedang memanifestasikan nilai maskulinitas melalui keseimbangan antara kekuatan dan kendali diri yang terepresentasi dalam gerak berpola silat dan penggunaan properti pedang serta cangkah. Tarian ini memuat lima nilai utama: keberanian, kehormatan, kendali diri, kepemimpinan, dan kebijaksanaan. Kelima nilai tersebut menegaskan peran lelaki Melayu sebagai penjaga marwah, pelindung komunitas, dan penegak etika sosial. Melalui struktur gerak yang terukur, disiplin tubuh, dan koordinasi ritmis, tarian ini berfungsi sebagai media pendidikan budaya yang menanamkan tanggung jawab moral dan kesadaran sosial. Secara kultural, Jepin Cangkah Pedang berperan sebagai ruang resistensi terhadap pergeseran nilai gender modern sekaligus sarana pelestarian identitas maskulin Melayu Pontianak. Tarian ini memperlihatkan bahwa kelelakian bukan ekspresi kekuasaan, tetapi wujud keseimbangan antara tenaga, kebijaksanaan, dan kehormatan dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan budaya.
Downloads
References
Adzan, N. K., Habsary, H., & Setiawan, A. Y. (2025). Menelaah Maskulinitas dalam Kajian Bentuk dan Fungsi Tari Igel di Kabupaten Lampung Utara. Arus Jurnal Psikologi Dan Pendidikan, 4(3), 487–496.
Anggela, D. R., Edenia, E., Santika, M. P., Ningsih, N., Havina, S., Arwinda, W., & Hasibuan, H. A. (2025). Strategi Menjaga Eksistensi Kearifan Lokal Melalui Tari Zapin di Era Globalisasi. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 2(12), 101–107.
Baniah, Ismunandar, & Fretisari, I. (2015). Makna Gerak Tari Jepin Pisau di Kota Pontianak Kalimantan Barat. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 4(8), 1–11.
Connell, R. W. (1995). Masculinities. University of California Press.
Creswell, J. W. (2014). Research Design: Quantitative, Qualitative, and Mixed Methods (4th ed.). Sage Publications.
Creswell, J. W. ., & Creswell, J. David. (2018). Research design : qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. SAGE Publications, Inc.
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures: Selected Essay. Basic Books.
Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. Sage Publications.
Handaningtias, U. R., Indriyany, I. A., & Nurjuman, H. (2018). Dekonstruksi Makna Maskulinitas pada Trend Korea Pop (K-POP) Sebagai Praktik Identitas Remaja. Prosiding Seminar Nasional Prodi Ilmu Pemerintahan 2018, 2667–283.
Huda, S., Wartningsih, A., & Indrapraja, D. K. (2016). Revitalisasi Musik Iringan Tari Jepin Cangkah Pedang di Kecamatan Pontianak Barat Kota Pontianak. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 5(1), 1–10.
Ibrahim, A. (2015). Melayu Antara Tradisi dan Moderniti. Dewan Bahasa dan Pustaka.
Ibrahim, A. (2024). Melayu Baru Sebagai Falsafah Sosial Integrasi Tradisi Dan Modernitas Dalam Penguatan Identitas Budaya. Jurnal Segeram, 4(2), 1–16.
Ikeh, T. S. D., Priyatna, A., & Adji, M. (2020). Konstruksi Maskulinitas dalam Penari Balian Bawo Dayak Deah. Paradigma: Jurnal Kajian Budaya, 1(10), 33–48.
Leavy, P. (2017). Research Design: Quantitative, Qualitative, Mixed Methods, Arts-Based Research, and Community-Based Research Approaches. The Guilford Press.
Lusia, I., Wafa, D. I., Prayuda, Musa, D. Th., & Alamri, A. R. (2024). Antara Laki-Laki Dan Tari Sebatas Panggung Seni: Stereotip Terhadap Laki-Laki Sebagai Penari. Journal Sosiologi, 7(1), 17–28. https://doi.org/10.59700/js.v7i1.9502
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (1994). Qualitative Data Analyisis: An Expanded Sourcebook. Sage Publications.
Ortiz, M. T., Pasa, I., Arondain, A., Zanoria, J. M., Maloma, C., & Nepangue, J. (2025). Understanding the gender dynamics and representation in dancing: The case of male ballet dancers in Cebu. ISRG Journal of Humanities and Cultural Studies, 2(1), 25–36.
Pratama, P. P. Y. A., Jazuli, M., Cahyono, A., & Adnyana, I. W. (2022). Ideologi Maskulinitas dalam Pewarisan Tari Baris di Desa Adat Batur Bali. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana, 863–870.
Puspitasari, N., Sanulita, H., & Fretisari, I. (2017). Struktur Penyajian Tari Jepin Cangkah Pedang dalam Seni Tari Melayu di Kota Pontianak. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 6(9).
Tiningsih, A. W. (2023). Bentuk Revitalisasi Jepin Cangkah Pedang sebagai Warisan Melayu Kota Pontianak. Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, Dan Budaya, 1(2), 1–10.
Walmsley, B. (2020). Masculinity and the Performing Body: Reframing Male Dance Identity in Contemporary Culture. Journal of Performance Studies, 27(1), 13–23.
Downloads
Published
How to Cite
License
Copyright (c) 2026 Imma Fretisari, Deni Slamet, Peri Rakhmadi, Nurbaiti Nurbaiti, Mega Cantik Putri Aditya

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
In submitting the manuscript to the journal, the authors certify that:
- They are authorized by their co-authors to enter into these arrangements.
- The work described has not been formally published before, except in the form of an abstract or as part of a published lecture, review, thesis, or overlay journal.
- That it is not under consideration for publication elsewhere,
- That its publication has been approved by all the author(s) and by the responsible authorities – tacitly or explicitly – of the institutes where the work has been carried out.
- They secure the right to reproduce any material that has already been published or copyrighted elsewhere.
- They agree to the following license and copyright agreement.
License and Copyright Agreement
Authors who publish with Onoma Journal: Education, Languages??, and Literature agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution License (CC BY 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.









